Tags

, ,

Tak terkira banyaknya bantuan yang saya dapat dari banyak pihak dalam proses penerimaan beasiswa ini.

Layaknya beasiswa hunter lain, saya hapal jadwal kapan scholarship dibuka dan ditutup. Maklum, sudah dua tahun berburu. Selain itu, tips untuk mendapatkan informasi mengenai seluk beluk beasiswa ini sangat mudah apalagi di jaman informasi ini. Blog bertebaran dimana-mana untuk dibaca dan diambil pengalamannya.

Proses seleksi beasiswa Fulbright ini mirip seperti proses seleksi beasiswa lain.

1. Seleksi dokumen

2.Wawancara

3.Tes Toefl/GRE

4.Tes masuk universitas

fulbrait

Infografik timeline proses beasiswa Fulbright (dari Facebook Fulbright Indonesia)

Saat seleksi dokumen, pastikan semua dokumen yang dibutuhkan sudah ada. Kalau memungkinkan, masukan aplikasi seawal mungkin, jangan tunggu deadline, nanti deadline betulan. Saya sayangnya termasuk orang yang dekat dengan deadline, jadi saya memasukkan aplikasi di sore hari, mana waktu itu saya sempat salah naik bus. Dari depok seharusnya ambil bus ke arah grogol turun komdak lalu naik busway. Saya menggampangkannya, Allah langsung tegur. Memang manusia ga boleh sombong ya. Jadi malah saya ambil bus ke arah tanjung priuk. Sempat panik karena tahu salah bus dan sudah ada di tol.  Alhamdulilah saya bisa turun di pramuka dan ternyata naik busway masih bisa sampai ke Sudirman.

Walhasil saya masukan aplikasi di sore hari, kantor aminef hampir tutup dan waktu itu aplikasi diletakkan di satu box besar berisi amplop amplop. Saya sungguh tidak yakin itu tumpukan aplikasi, apa betul saya harus letakkan disana, apa betul saya masukkan ke tempat yang benar, aplikasinya itu untuk yang master atau PhD saja,  itu aplikasinya dicampur? Ga da box khusus master? . Yah, lalu bismillah dan tunggu sampai dipanggil.

Setelah dua tahun memburu beasiswa saya belajar untuk apply dan lupakan. Bilamana memang sudah rejeki, tentu akan dipanggil. Bila tidak, tak usah ditunggu, segera apply beasiswa lain. Yang penting tetap berusaha untuk mengajukan aplikasi beasiswa dan apply universitas. Every great adventure begin with a single step. April 15. Tanggal bersejarah ini tampaknya tidak berubah sebagai deadline. Keep that in mind dear Fulbright hunters.

Lalu sekitar Agustus, saya mendapat email dari AMINEF yang menyatakan saya lulus seleksi awal, sesi selanjutnya adalah seleksi wawancara.

Ketika saya dipanggil wawancara dahulu, inilah blog yang sangat membantu saya: Menembus Fulbright, saya bisa maka andapun bisa blog ini detail dalam menceritakan pengalaman mulai dari pembuatan proposal hingga wawancara. Informasinya pun akurat, pertanyaan yang muncul di wawancara pun tidak terlalu jauh dari sana. Ga persis sama, tapi intinya tetap mirip.

Waktu itu wawancara dilakukan di gedung AMINEF, siang hari. Sepertinya di tiap jam ada peserta wawancara jadi saya bertemu dengan tiga orang calon penerima beasiswa lain yang juga sedang H2C, harap harap cemas. Anyway, Mbak Isye (ingatlah mbak isye ini karena mbak baik hati inilah yang akan membantu perjalanan selama seleksi) membawa saya kedalam ruangan dingin  dimana ada tiga orang interviewer. Dua alumni Fulbright dari Indonesia dan satu lagi dari Amerika. Interview dilakukan dalam bahasa Inggris, tentunya. Suasana interview ini agaknya berbeda dengan yang saya bayangkan karena sungguh, interviewernya ramah dan mungkin karena melihat saya sangat gugup ketika masuk ruangan mereka mempersilahkan saya untuk memperkenalkan diri. Dalam perkenalan ini saya singkat saja karena toh mereka memegang seluruh aplikasi dan dokumen saya. Kemudian setelah menceritakan mengenai disiplin ilmu saya dan sedikit pertanyaan-pertanyaan mengenai hal yang saya kenal, saya menjadi lebih rileks. Bahkan salah satu pewawancara bertanya:’Are you more relaxed now?’ yes indeed sir.

Saya kurang ingat dengan jelas apa saja yang pertanyaan yang diberikan namun garis besarnya:

1.Tell about yourself and your background

2.Tell why you want to go USA, and where precisely?

3.What is your plan in the next 10 years?

4.Tell about your contribution to society

Masalah perkenalan mungkin biasa saja ya, lalu alasan ingin ke Amerika, kalau bilang karena pendidikan disana lebih bagus itu generik sekali. Pilihkah satu alasan mengapa harus pergi ke sana. Kalau saya dahulu saya ingin sekali belajar pada dewa cognitive neuroscience yang ada di UC Santa Barbara ( yang belakangan saya tahu bahwa beliau adalah profesor emeritus yang tidak mengajar lagi dan programnya PhD, allright haha) dan karena disiplin ilmu saya belum berkembang di Indonesia. Rencana 10 tahun, sepertinya supaya mereka melihat visi kita ke depan, rencana konkrit dalam 10 tahun, visible atau tidak. Nah yang terakhir, ceritakanlah mengenai kegiatan yang sudah dilakukan yang menunjukkan bahwa kita memang berniat untuk membangun Indonesia (amin) sehingga insyaallah ketika kembali ke Indonesia ilmunya benar-benar akan digunakan untuk membantu masyarakat.

Sepertinya para interviewer adalah orang yang kompeten di bidangnya dan paling tidak sudah mengeyam pendidikan doktoral. Sehingga, saya mendapat pertanyaan spesifik mengenai bidang ilmu saya, Ketika saya ditanya, ‘Could you tell me what brain wave are there and what are their representation’ nah saya kurang mempersiapkan pertanyaan ini sehingga saya relay on my knowledge saja dan memang seharusnya kita cukup mengerti bidang di bidangnya masing-masing bukan? haha jadi saya menjelaskan brain wave yang saya ketahui. dan itu tidak berhenti disitu, sang interviewer pun bertanya lagi ‘Can you tell me what brain wave is there when people have REM’ karena saya mengyinggung tentang REM di penjelasan saya. Saya salah menjawab, karena itu saya awalnya tidak yakin bisa lolos, ternyata Allah mentakdirkan saya untuk lolos, alhamdulilah rejeki.. ga kemana.. Saya juga mendapat kesempatan untuk mock interview dengan grantee yang sudah lulus Fulbright. Allah has plan, mungkin inilah berkah stay di kampus dan tetap mengabdi pada dosen.  Jadilah saya bertemu dengan grantee ( Thank you so much Kak Renge <3) yang bisa menjadi valuable resources.

Insyaallah kalau ingat pertanyaan lain akan saya ceritakan kembali.

Anyway tips untuk wawancara, berlatihkan seakan akan sudah diwawancara. Berlatih di depan cermin, seperti layaknya akan berpidato.

Yang paling penting, jangan menyerah.

The journey of a thousand miles, must begin with a single step 

cieh

right?

Advertisements