Tags

,

Sudah berapa lamalah ini aku merasa bahwa hidup ini merupakan universitas yang sangat besar dengan Allah sebagai rektor dan dosen bertebaran di muka bumi asalkan aku tahu kapan kelasnya dimulai dan pelajaran apa yang bisa kuambil.

Pelajaranku kali ini berasal dari tukang jahit sederhana yang menjadi langganan orang tuaku di kampung halaman, depok.

Suatu ketika aku sedang terburu-buru, membawa hasil print ToA dari pemberi beasiswa dengan deadline [ this afternoon is the latest – and it was 3 PM ] dan aku mampir untuk memotongkan celana bapak dan celana jeansku yang kepanjangan. Disana bapak penjahit itu sedang serius bicara dengan seorang pria tengah baya. Sepertinya mereka sedang membicarakan bisnis. Aku tahu diri, aku hanya membawa dua potong celana untuk dibetulkan, sementara mereka sepertinya membicarakan bisnis yang lebih besar.

Akupun menunggu, dengan badan agak semriwing mungkin akibat kelelahan.

Setelah akhirnya pria itu pulang, aku tadinya hanya berniat meletakkan celana yang akan dipotong itu lalu pulang. Aku bahkan tak membawa cukup uang untuk membayarnya. Biasa, lupa. Ternyata si bapak penjahit ini sedang kesal dengan pria yang sebelumnya berbicara dengannya. Tak ayal diapun berkeluh kesah dengan semangat padaku – yang saat itu masih setengah demam, tak bawa uang dan hanya terpikir untuk drop pakaian yang akan kubetulkan-

Bapak ini berkeluh kesah tentang seorang langganannya, yang memaksa untuk menyelesaikan jahitan. Penjahit lain mungkin akan langsung berbunga-bunga hatinya jika ditawari jahitan sampai beratus-ratus, tapi tidak bapak ini. Dia ternyata pernah ditipu. Ceritanya, dia dulu diminta untuk menyelesaikan pesanan mukena, beberapa puluh biji. Diberi ia uang panjer 50 persen. Tapi sampai selesai mukenanya, uang sisanya tak pernah sampai padanya. Ia hanya berkata ” Saya cuma minta sekali, kalau memang rejeki tentu akan ke saya kalau tidak ya sudah.” Dia pun pernah mengalami hal kurang menyenangkan dengan pelanggan tersebut. “kalau dengan penjahit lain, mungkin bahan yang ia tinggal ini saya tahan atau saya pakai saja dulu. Tapi saya takut kalau bahan ini ternyata dibuat shalat. ”

Mungkin memang dia bukan lulusan ilmu agama, bukan pula lulusan master atau PhD dari sekolah terkenal.

Namun perilakunya, dia terapkan ilmu yang didapatnya, meski sedikit.

Sungguh menjadi contoh yang baik..

tambah lagi, menurut ibu, penjahit ini khatam Quran dua kali sebulan.

Aku?

Dua tahun (bahkan mungkin lebih, aku ga inget pernah khatam waktu kecil haha) baru khatam sekali.

hm..food for thought.

Advertisements