Tags

, , ,

Hehe

Pertanyaan ini dilanturkan oleh seorang teman.

Jangankan dirimu kawan,saya sungguh tidak tahu alasannya.

Saya bukan Mapres atau mahasiswa dengan IPK 4. Bekal saya untuk mengejar beasiswa adalah keinginan untuk belajar lagi, passion di bidang saya dan selebihnya unknown forces (untuk saya, Allah dan doa orangtua). Probability of everything live between 0 and 1. Selama tetap mencoba, insyaallah ada jalan.

I am your average student, my cumulative GPA is average, I didn’t obtain any massive achievement either. I only have one obsession, study abroad, obtain more knowledge and apply it to my life.

Sebelum saya mendapatkan beasiswa apapun, ada masa dimana saya merasa tidak bergerak, masa diantara selesai kuliah sarjana dan masa apply beasiswa dan master. Dosen saya, Pak Sarmidji ketika beliau mendapati saya terpuruk karena gagal terus mendapatkan beasiswa berkata: ‘Kita tidak pernah tahu bagaimana kriteria tersembunyi yang diminta dari panitia beasiswa. Kadang kita pikir kita adalah kandidat yang sesuai, tapi ternyata tidak lolos. Kadangkala sebaliknya’. Hal ini saya rasakan betul ketika mengajukan aplikasi Erasmus Lotus, program master dari Erasmus khusus untuk region Asia Tenggara, dosen koordinatornya pada saat itu adalah dosen saya, persyaratan saya sepertinya memadai, program cocok. Kalau dilihat sekilas, saya punya kesempatan untuk masuk. Tapi entah kenapa ada masalah teknis dokumen transkrip saya tidak terkirim, padahal sudah saya kirim 3 kali menggunakan Fax, dan Fedex. Memang mungkin belum waktunya.

Sebelum mendapatkan Fulbright saya tidak pernah bermimpi untuk pergi ke Amerika. Negara tujuan saya ada di Eropa (kemungkinan karena kebanyakan teman saya pergi ke Eropa) atau Jepang. Tidak pernah sedikitpun terbersit keinginan untuk pergi ke Amerika. Belum lagi masalah kemampuan, setahu saya mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Fulbright adalah mahasiswa kelas elit. Apalah prestasi saya.

Mungkin disini saya bisa bercerita mengenai latar belakang studi saya.

Saya fans anime dan manga, karena itulah saya bercita-cita pergi ke Jepang dan ingin belajar menggambar (hahaha). Tapi orangtua saya tidak menyetujuinya, walhasil saat memilih bidang studi, harus bidang selain sastra Jepang dan seni (ibu saya anti seniman lol). Jadilah saya galau maksimal saat SMPB, setelah bernegosiasi dengan orang tua saya akhirnya saya memutuskan untuk mengambil Ujian Masuk ITB dengan pilihan IT, Arsitektur dan Seni Rupa. Saya bahkan mengambil bimbingan khusus untuk masuk seni rupa. Dan saat hasil tes diumumkan saya mendapatkan pilihan kedua, Arsitektur ITB. Saat itu saya berpikir, ‘aduh harus bayar 45juta lol ini akan memberatkan orang tua’. Jadi saya berusaha mendapatkan alternatif lain. Karena saya berada di Bandung, saya pikir yah cari kesempatan dulu, dan ikut ujian masuk UNPAD tanpa persiapan. Dan mendapatkan posisi untuk masuk ke jurusan Hubungan Internasional Unpad. Random banget ya, beneran iseng yang unpad itu lol. Ketika tiba saat penentuan apakah saya menerima atau tidak hasil ujian masuk ITB,  hati saya berat untuk membebani orang tua dengan 45 juta untuk masuk ITB. Dan ITB saat itu membuat para siswa tahun 2006 memutuskan apakah mereka akan mengambil hasil ujian masuk atau tidak dengan cara membuat waktu daftar ulang untuk mahasiswa bertepatan dengan saat SPMB. Saya memilih SPMB dan akhirnya masuk jurusan Biologi ITB. Saat itu saya pikir yah kenapa tidak, nanti tahun depan saya coba lagi masuk SR. LOL salah besar karena sekali kluar dari ITB nama saya akan diblack list dan tidak akan bisa mendaftar lagi. Jadilah saya mahasiswa Biologi gagal, karena tidak punya motivasi dan setiap kali saya melewati bangunan SR saya terkagum-kagum dan iri dengan mahasiswa yang ada disana.

Jadilah saya mahasiswa tanpa motivasi melewati tahun pertama tanpa tujuan. Jauh dari orang tua dan tidak ada siapapun untuk mengatur, dan sekali lagi, tanpa motivasi. Nilai IPK jatuh bebas, gaya belajar berganti, biasa teratur lalu dibebaskan membuat saya kehilangan kebiasaan. Dan tidak adanya kebanggaan dalam diri saya sebagai mahasiswa biologi membuat saya makin tidak termotivasi untuk mendapatkan penghargaan apapun.

Semakin saya mengutuki kenyataan dan lari dari kenyataan bahwa saya sedang belajar biologi di kampus ITB semakin sempit pandangan saya dalam hidup. Saya kemudian gagal dan beranggapan diri saya rendah, saya tidak pintar, dan berbagai pikiran negatif lain memenuhi benak saya.

Tapi ada satu mimpi yang belum saya lepaskan, pergi ke Jepang.
Saya menemukan kesempatan untuk pergi ke Jepang dari kampus. Saya berusaha keras untuk itu. Namun apa daya, belum rejeki mungkin jadi belum ada kesempatan baik itu exchange maupun kesempatan master di sana.

Di tahun kedua dan ketiga, setelah saya melewati masa TPB (ternyata saya paham, ditahun pertama semua mata kuliah adalah mata kuliah ulangan dari SMA dan saya benci matematika & Fisika. Bayangkan kagetnya saya ketika saya masuk biologi dan harus mengulang kalkulus dan fisika selama satu tahun. Sudahlah saya benci, tidak suka jurusan, haha benar-benar kombo hit untuk menjatuhkan semangat belajar). Namun tahun kedua dan ketiga saya medapati hal-hal yang saya sukai dari Biologi. Kuliah lapangan dan teman-teman dekat. Teman-teman kuliah saya di biologi adalah teman bermain dan saya merasa beruntung dipertemukan dengan mereka dan saya mengerti adanya sahabat dan teman dekat dari mereka (love you Mar, Cyn, Omi, Sor, Nang, Can, Fida & koko) Alhamdulilah.

Mulai di tahun ketiga kami mulai diperbolehkan memilih kuliah pilihan, artinya saya diberpolehkan untuk mengambil kuliah yang menarik bagi saya. Saya mengerti bahwa kuliah wajib memang diperlukan bagi landasan pikiran dan mempelajari teknik dan metode. Mereka memang diperlukan, namun bagi saya saat itu yang menjalani kuliah hanya demi lulus kelas, tidak terbersit sama sekali tujuan luhur itu hahaha. Untuk saya, makin saya suka sesuatu, makin saya akan memberikan usaha ekstra bagi hal tersebut. Di tahun ketiga ini pula saya dibawa takdir (Allah dan possibly doa ibu saya), ke  jurusan lain untuk menjalankan tugas akhir. Saya dipertemukan dengan teman-teman lab yang benar-benar menginspirasi saya. Departemen Fisika Medik (yak,  ketika saya mendengar kata FISIKA, ketakutan saya muncul kembali), disana saya belajar makin saya takut pada sesuatu, makin saya akan dipaksa untuk berhadapan dengannya. Maka dari itu, saya berusaha untuk tidak membenci berlebihan pada apapaun karena bisa jadi sesuatu yang kau sukai tidak baik bagimu, dan bisa jadi sesuatu yang kau benci baik bagimu (lupa dengar dari mana).

Pengerjaan undegraduate thesis di lab Fisika medik ini mengenalkan saya pada Neuroscience. Cabang ilmu yang sedang berkembang yang intinya mempelajari fungsi otak. Saya terpesona. Saya jatuh cinta. Cinta saya pada neuroscience membawa saya melewati keringat dan airmata karena harus mempelajari sebagian psikologi, sebagian anatomi, sebagian istilah medis, serta alat yang dipergunakan untuk mendeteksi gelombang otak, belum lagi MATLAB (yang tidak pernah saya pelajari sebelumnya). Namun alhamdulilah saya dipertemukan dengan saudara-saudari yang seiman dan penuh dengan prestasi. Merekalah yang menginspirasi saya untuk meneruskan sekolah dan membantu saya berkembang secara akademis, secara personal, dan selalu memotivasi saya selama tugas akhir (dan setelahnya sampai sekarang).

Saya memutuskan untuk meneruskan sekolah master untuk mempelajari neuroscience.

Satu per satu teman-teman di lab pergi sekolah PhD dan master. Pertama Bang Amor ke Eindhoven untuk PhD, lalu tante Mira ke Nijmegen untuk PhD berbarengan dengan Yoga yang mengejar kuliah master ke Jerman, diikuti oleh Naren ke London untuk master dan Makcik Hesty yang pergi ke Bochum untuk PhD. Kepergian mereka menunjukkan pada saya bahwa pergi sekolah ke luar negeri itu nyata dan bisa dilakukan. Maka merekalah yang menginspirasi saya untuk tetap mengajukan aplikasi sekolah dan beasiswa selama dua tahun. Makcik, Uma dan Teko terutama, yang memacu saya untuk tetap bersemangat dan menjaga keteguhan saya untuk pergi sekolah. Diantara kegalauan saya ketika melihat teman-teman lain mulai kerja, independen dari orang tua, saya belum bisa. Setelah lulus S1 saya memutuskan untuk tetap berada di kampus supaya lebih mudah untuk mendapatkan rekomendasi dari dosen dan tetap menjaga otak saya tetap ‘fresh’ lol. Saya pun beruntung mendapatkan dua dosen yang baik hati Pak Supri dan Bu Lulu yang terus berusaha membantu saya. Saya juga dianugrahi orang tua yang membebaskan saya untuk memilih apa yang ingin saya lakukan, Alhamdulilah. Doa orang tua saya dan motivasi yang mereka berikan selama saya menjadi NEET lol. Saya tidak bisa meminta lebih dari itu. Saya benar-benar orang yang beruntung.

Jadilah saya selama dua tahun beerkeliaran di kampus, bekerja sebisanya sebagai asisten dosen sampai suatu hari saya iseng melamar menjadi guru bahasa Inggris di EF Bandung Banda. Allah sepertinya sudah mengatur rejeki saya, selama saya berusaha insyaallah. Di kampus saya bertemu dengan seorang kakak kelas yang mendapatkan beasiswa Fulbright dan membantu saya selama aplikasi (love you Nge). Beberapa bulan setelah saya mengajukan aplikasi beasiswa (April 15 is always Fulbright deadline). Sebulan setelahnya saya diterima bekerja di EF, saya pikir ini bisa jadi latihan saya untuk mengasah bahasa Inggris. Dan betul saja, di EF lah saya pertama berinteraksi dengan orang asing. Di EF juga saya mengetahui pengalaman mereka hidup di luar negara mereka. Hal ini membantu saya mengerti ketika saya tiba di Amerika dan menjadi minoritas. Kebalikan dari para orang asing yang saya temui di EF. Saya paham segala kerinduan mereka terhadap negasa asal dan komentar mereka tentang hal-hal di Indonesia yang menurut saya biasa, menurut mereka tidak.  When you look back, look at the connection between and you will see the pattern. Allah merangkai hidup saya ke titik dimana saya berada saat ini. Lalu beberapa bulan kemudian saya mendapat email bahwa saya akan diinterview oleh Fulbright. Awalnya saya hampir tidak percaya (kebanyakan menerima reaksi penolakan mungkin lol) lalu prosesnya berjalan begitu saja. Ketika saat itu pula, orang tua saya pergi haji jadi saya ikut mengurus beberapa urusan mereka alhamdulilah, lalu saya diberi kepercayaan untuk ikut serta dalam Tim Olimpiade biologi nasional, berbarengan dengan Tes GRE untuk masuk universitas Amerika. Segalanya bergulir begitu saja sampai waktu keberangkatan, saya baru benar-benar sadar bahwa ini nyata. Saya akan pergi ke Amerika untuk sekolah master di jurusan Applied Cognition and Neuroscience.

Kembali ke topik kenapa saya bisa lulus Fulbright? Wallahualam, saya tidak tahu. Saya cuma bisa berkata bahwa ini rejeki dari Allah, saya hanya beruntung, dan kalau bisa ditambahkan ya doa orang tua terutama ibu sangat berperan dalam segala proses ini. Saya tidak sendiri karena dalam proses ini saya dibantu banyak orang, dari mulai dosen yang memberi rekomendasi, teman-teman yang memotivasi dan Kak Renge yang memberikan bantuan teknis (THUMBS UP FOR YOU NGE). Karena banyak orang yang mempunyai IPK jauh diatas saya, dengan prestasi yang jauh lebih bersinar dibandingkan saya. Saya hanya punya mimpi dan mimpi saya yang memotivasi dan membuat saya bertahan hingga saya mendapat sekolah.  Surround yourself in the environment you want to be. Ketika ingin mendapat beasiswa dan belajar lagi, cari teman-teman yang memiliki mimpi yang sama sehingga bisa saling memberi semangat dan memotivasi. Kepergian teman-teman lab saya dulu sangat memotivasi saya. Well dan mungkin cinta pada neuroscience lol. Ketika kita memiliki mimpi, itulah yang menjadi sumber semangat. At least that what my experience was. Keep on dreaming, and make your dream reality. If its not you who fight for your dream, then who will? 

How else will I be blessed everything He gives me. My scholarship, my family,  so when you ask me ” how the heck you got the scholarship?”. Man, I can only say that it is a gift from Allah.

Ada sebuah tulisan blog yang memotivasi saya selama mencari beasiswa, ini pun seorang fulbrighter. Silahkan dilihat linknya: Menembus Fulbright: Saya Bisa, Maka Andapun Bisa

Semoga tulisan ini bisa memotivasi siapapun yang membacanya.

Advertisements